Minggu, 22 Juni 2014

Solusi: Kapan ya tanggal 1 Ramadhan itu?




BISMILLAH..

Alhamdulillahirobbil'alamin, Ramadhan untuk tahun ini inshALLAH akan segera tiba, dan tidak sedikit orang berlomba-lomba untuk menyambut kedatangannya. Terlebih untuk saudara kita di Indonesia. Mereka sangat bersemangat sekali hingga apapun yang dianggap tidak menghormati orang yang berpuasa, maka dihindarkan. Subhanallah sekali, melihat kegembiraan mereka dan persiapan-persiapan yang telah di-planingkan, semoga ALLAH memudahkannya. 

Hari ini saya menulis di blog ini, hanya sekedar melihat realita yang ada di sekitar saya, terutama karena saya tinggal di Indonesia, maka secara observasional saya ingin menanggapi dan sedikit memberikan solusi dengan permasalahan yang sering muncul di negara saya. Di Indonesia ketika akan menjelang bulan ramadahan, berbagai media telah gencar untuk meliput "1 ramadhan jatuh pada tanggal berapa?". Yah, Maklum lah kami masih menggunakan kalender masehi, walau sebagian besar penduduk Indonesia adalah islam. Perbedaan pendapat ini selalu membuat masyarakat kebingungan, harus ikut yang mana ya?? atau mau puasa aja kok repot?? atau satu agama kok beda-beda sih?. Padahal Islam pada hakikatnya tidak demikian. Islam selalu memberikan kemudahan bagi pemeluknya, dan Islam selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua, asalkan kita masuknya secara total, maka semuanya akan terasa mudah, nikmat, dan sempurna. Allahu'alam bissawab.

Nah, untuk memberikan solusi dari permasalahan di atas, alhamdulillah saya menemukan satu artikel dari web favorit saya, yang in shaa ALLAH shahih. (Karena saya bukan mahasiswa Agama Islam, dan kurang tahu banyak tentang ilmunya, jadi yaaa ke yang lebih paham). Berikut adalah penjelasan dari ust. Abdulloh Saleh Hadrami, semoga bermanfaat.

MENJELANG BULAN RAMADHAN
Oleh: Abdullah Saleh Hadrami
1. Menghitung Hari Bulan Sya’ban
Menjelang Ramadhan hendaklah ummat Islam berupaya menghitung bulan Sya?ban. Dalam Islam, satu bulan bisa jadi dua puluh sembilan hari dan bisa jadi pula tiga puluh hari. Puasa atau ?Ied (lebaran) hendaklah berpegang kepada Ru?yah Hilal (bulan), kecuali apabila bulan tidak terlihat dikarenakan tertutup awan atau yang lainnya maka bulan Sya?ban digenapkan tiga puluh hari.
Dari Abu Hurairah ?Radhiallahu ?Anhu berkata: “Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Puasalah kamu karena melihat hilal (bulan), dan berbukalah karena melihat hilal, jika kamu terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah bin Umar ?Radhiallahu ?Anhuma, Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu puasa hingga melihat hilal, jangan pula kamu berbuka hingga melihatnya, jika kamu terhalangi awan hitunglah bulan Sya’ban.? (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Larangan Berpuasa Pada Hari yang Diragukan
Hendaklah kita berpuasa pada bulan Ramadhan apabila telah masuk bulan tersebut dan dilarang mendahuluinya dengan alasan sikap hati-hati (ikhthiyath).
Dari Abu Huarairah ?Radhiallahu ?Anhu, Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam pernah bersabda: “Janganlah kamu mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali seseorang yang telah rutin berpuasa maka berpuasalah.” (HR. Muslim)
Shilah bin Zufar meriwayatkan dari Ammar bin Yasir ?Radhiallahu ?Anhu berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan berarti telah durhaka kepada Abul Qosim (Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam) .” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa’i dan Bukhari secara ta?liq. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam “Taghliqu Taqliq” menghasankan hadits diatas. Shifat Shoum Nabi, Salim Al-Hilali dan Ali Hasan). 
http://www.kajianislam.net/2007/08/menjelang-bulan-ramadhan/
Gimana, udah jelas?
Apabila pembaca masih menemukan berbagai perdebatan atau perbedaan, maka hendaklah menjahui dari perbedaan tersebut. serta yang dipesankan dari ulama, hal yang perlu dilakukan dalam menyikapi perbedaan pendapat adalah, hendaklah kita menyikapinya dengan lapang dada, serta mengambil keputusan pendapat tersebut dengan pendapat yang dasar hukumnya kuat dan rasional. Ada satu lagi yang sering saya gunakan dalam menyikapi berbagai pendapat, yakni mengikuti hati. sebenarnya hati kita ini memiliki mata dan fitrah yang diarahkan oleh ALLAH subhanahu wa ta'ala. Mata dan fitrah tersebut akan berada dalam kebenaran ketika kita selalu berusaha mendekatkan diri kepadaNYA, dan ketika hal itu kita lakukan, maka in shaa ALLAH Allah tidak akan membiarkan kita hanyut dalam perkara yang subhat dan bathil. Allahu'alam bissawab. semoga bermanfaat dan kemudahan untuk kita semua.

RAMADHAN KAREEM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label